Kamus Awie

Rabu, 22 Juli 2009

PSiko Komunikasi

PSIKOLOGI KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Pendahuluan
Komunikasi memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Hampir setiap saat kita bertindak dan belajar dengan dan melalui komunikasi. Sebagian besar komunikasi yang kita lakukan berlangsung dalam situasi komunikasi antar pribadi. Situasi komunikasi antar pribadi ini bisa kita temui dalam konteks kehidupan dua orang, keluarga, kelompok maupun organisasi.
Komunikasi antar pribadi mempunyai berbagai macam manfaat. Melalui komunikasi antar pribadi kita bisa mengenal diri sendiri dan orang lain. Melalui komunikasi antar pribadi kita bisa mengetahui dunia luar. Melalui komunikasi antar pribadi kita bisa menjalin hubungan yang lebih bermakna. Melalui komunikasi antar pribadi kita bisa melepaskan ketegangan. Melalui komunikasi antar pribadi kita bisa mengubah niali nilai dan sikap seseorang. Melalui komunikasi antar pribadi seseorang bisa memperoleh hiburan dan menghibur orang lain, dan sebagainya. Singkatnya komunikasi antar pribadi mempunyai berbagai macam kegunaan.

Definisi
Banyak definisi tentang komunikasi antar pribadi atau (interpersonal communications) beberapa di anataranya adalah sebagai berikut :

Theodorson (1969) : “adalah proses pengalihan informasi dari satu atau sekelompok orang dengan menggunakan simbol-simbol tertentu kepada satu atau kelompok orang lainnya”

Joseph De Vito (1976) : “Pengiriman pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain dengan efek dan umpan balik yang langsung”

Dean C Barlund (1968) : “Komunikasi yang selalu dihubungkan dengan pertemuan antara dua, tiga atau empat orang yang terjadi secara spontan dan tidak berstruktur”


Prinsip-prinsip dalam komunikasi interpersonal

1. Komunikasi Adalah Paket Isyarat
Perilaku komunikasi, apakah ini melibatkan pesan verbal, isyarat tubuh, atau kombinasi dari keduanya, biasanya terjadi dalam “paket” (Pittenger, Hocket; & Danehy, 1960). Biasanya, perilaku verbal dan nonverbal saling memperkuat dan mendukung. Semua bagian dari sistem pesan biasanya bekerja bersama-sama untuk mengkomunikasikan makna tertentu. Manusia tidak mengutarakan rasa takut dengan kata-kata sementara seluruh tubuh nya bersikap santai. Manusia tidak mengungkapkan rasa marah sambil tersenyum. Seluruh tubuh – baik secara verbal maupun nonverbal – bekerja bersama-sama untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.

2. Pesan yang Kontradiktif
Manusia dapat saja mengatakan “Saya begitu senang bertemu dengan anda”, tetapi berusaha menghindari kontak mata langsung dan melihat kesana-kemari untuk mengetahui siapa lagi yang hadir. Orang ini mengirimkan pesan yang kontradiktif. Manusia menyaksikan pesan yang kontradiktif (dinamai “pesan berbaur”) pada pasangan yang mengatakan bahwa mereka saling mencintai namun secara nonverbal melakukan hal-hal yang saling menyakiti, misalnya datang terlambat untuk suatu janji penting, mengenakan pakaian yang tidak disukai pasangannya, berkasih-kasihan dengan orang lain, menghindari kontak mata, atau tidak saling menyentuh.
Ernst Beier (1974), misalnya, berpendapat bahwa pesan-pesan ini yang dikatakannya sebagai “diskordansi” (discordance) merupakan akibat dari keinginan untuk mengkomunikasikan dua emosi atau perasaan yang berbeda. Sebagai contoh, bila manusia menyukai seseorang dan ingin mengkomunikasikan perasaan positif ini, tetapi ia juga tidak menyukainya dan ingin mengkomunikasikan perasaan negatif itu juga. Hasilnya adalah manusia tersebut mengkomunikasikan kedua perasaan itu, satu secara verbal dan lainnya secara nonverbal.

3. Komunikasi Adalah Proses Penyesuaian
Komunikasi hanya dapat terjadi bila para komunikatornya menggunakan sistem isyarat tertentu (Pittenger dkk., 1960). Ini jelas kelihatan pada orang-orang yang menggunakan bahasa berbeda. Mereka tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang lain jika sistem bahasa berbeda. Tetapi, prinsip menjadi sangat relevan bila disadari bahwa tidak ada dua orang yang menggunakan sistem isyarat yang persis sama. Orang tua dan anak, misalnya, bukan hanya memiliki perbendaharaan kata yang berbeda, melainkan juga mempunyai arti yang berbeda untuk istilah yang mereka gunakan. Budaya atau subbudaya yang berbeda, meskipun menggunakan bahasa yang sama, seringkali memiliki sistem komunikasi nonverbal yang sangat berbeda. Bila sistem ini berbeda, komunikasi yang bermakna dan efektif tidak akan terjadi. Sebagian dari seni komunikasi adalah mengidentifikasikan isyarat orang lain, mengenali bagaimana isyarat-isyarat tersebut digunakan, dan memahami apa artinya. Mereka yang hubungannya akrab akan menyadari bahwa mengenali isyarat-isyarat orang lain memerlukan waktu yang sangat lama dan seringkali membutuhkan kesabaran.

4. Komunikasi Mencakup Dimensi Isi dan Hubungan
Komunikasi setidak-tidaknya sampai batas tertentu, berkaitan dengan dunia nyata atau sesuatu yang berada di luar (bersifat ekstern bagi) pembicara dan pendengar. Tetapi, sekaligus, komunikasi juga menyangkut hubungan di antara pihak (Watzlawick, Beavin, & Jackson, 1967). Sebagai contoh, seorang atasan mungkin berkata kepada bawahannya, “Datanglah ke ruang saya setelah rapat ini.” Pesan sederhana ini mempunyai aspek isi (kandungan, atau content) dan aspek hubungan (relational).
Aspek isi mengacu pada tanggapan perilaku yang diharapkan – yaitu, bawahan menemui atasan setelah rapat. Aspek hubungan menunjukkan bagaimana komunikasi dilakukan. Bahkan penggunaan kalimat perintah yang sederhana sudah menunjukkan adanya perbedaan status di antara kedua pihak. Atasan dapat memerintah bawahan. Dalam setiap situasi komunikasi, dimensi isi mungkin tetap sama tetapi aspek hubungannya dapat berbeda, atau aspek hubungan tetap sama sedangkan isinya berbeda. Sebagai contoh, atasan dapat mengatakan kepada bawahan “Sebaiknya anda menjumpai saya setelah rapat ini” atau Dapatkah kita bertemu setelah rapat ini?” Dalam kedua hal, isi pesan pada dasarnya sama – artinya, pesan dikomunikasikan untuk mendapatkan tanggapan perilaku yang sama – tetapi dimensi hubungannya sangat berbeda. Dalam kalimat pertama, jelas tampak hubungan atasan – bawahan, bahkan terasa kesan merendahkan bawahan. Pada yang kedua, atasan mengisyaratkan hubungan yang lebih setara dan memperlihatkan penghargaan kepada bawahan.
Demikian pula, adakalanya isi dapat berbeda tetapi dimensi hubungan tetap sama. Sebagai contoh, seorang remaja mungkin berkata kepada ayahnya, “Bolehkah saya pergi ke bioskop malam minggu ini? Dan “bolehkah saya menggunakan mobil malam ini?” Isi kedua pesan ini jelas sangat berbeda. Tetapi, dimensi hubungannya pada dasarnya tetap sama. Jelas ada hubungan bawahan – atasan di mana ijin untuk melakukan sesuatu yang diperoleh.

5. Komunikasi Melibatkan Transaksi Simetris dan Komplementer
Dalam setiap proses transaksi, setiap elemen berkaitan secara integral dengan setiap elemen yang lain. Elemen-elemen komunikasi saling bergantung, tidak pernah independen : Masing-masing komponen dalam kaitannya dengan komponen yang lain. Sebagai contoh, tidak mungkin ada sumber tanpa penerima, tidak akan ada pesan tanpa sumber, dan tidak akan umpan balik tanpa adanya penerima. Karena sifat saling bergantung ini, perubahan pada sembarang elemen proses mengakibatkan perubahan pada elemen-elemen yang lain. Misalnya, Anton sedang berbincang-bincang dengan sekelompok teman, kemudian ibu Anton datang masuk ke kelompok. Perubahan “Khalayak” ini akan menyebabkan perubahan-perubahan lain. Barangkali Anton atau teman-temannya akan mengubah bahan pembicaraan atau mengubah cara membicarakannya. Ini juga dapat mempengaruhi berapa sering orang tertentu berbicara, dan seterusnya. Apapun perubahan yang pertama, perubahan-perubahan lain akan menyusul sebagai akibatnya.
Hubungan dapat berbentuk simetris atau komplementer (Watzlawick dkk., 1967). Dalam hubungan simetris dua orang saling bercermin pada perilaku lainnya. Perilaku satu orang tercermin pada perilaku yang lainnya. Jika salah seorang mengangguk, yang lain mengangguk, jika yang satu menampakkan rasa cemburu, yang lain memperlihatkan rasa cemburu; jika yang satu pasif, yang lain pasif. Hubungan ini bersifat setara (sebanding), dengan penekanan pada meminimalkan perbedaan di antara kedua orang yang bersangkutan.
Cara lain melihat hubungan simetris adalah dalam bentuk persaingan dan perebutan pengaruh di antara dua orang. Masing-masing orang dalam hubungan simetris perlu menegaskan kesebandingan atau keunggulannya dibanding yang lain (Lederer dan Jackson, 1986). Hubungan simetris bersifat kompetitif; masing-masing pihak berusaha mempertahankan kesetaraan atau keunggulannya dari yang lain. Jika, misalnya, salah satu mengatakan bahwa sesuatu itu harus dilakukan dengan cara tertentu, pihak yang lain akan menangkapnya sebagai pernyataan bahwa ia tidak cukup kompeten untuk memutuskan bagaimana sesuatu itu harus dilakukan. Kericuhan lebih menyangkut tentang siapa yang berhak memutuskan. Kericuhan ini lebih menyangkut siapa pihak yang lebih kompeten. Seperti dapat dengan mudah dipahami, tuntutan pengakuan akan kesetaraan (atau keunggulan) seringkali menimbulkan pertengkaran dan permusuhan.
Dalam hubungan komplementer kedua pihak mempunyai perilaku yang berbeda. Perilaku salah seorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplementer dari yang lain. Dalam hubungan komplementer perbedaan di antara kedua pihak dimaksimumkan. Orang menempati posisi yang berbeda; yang satu atasan, yang lain bawahan; yang satu aktif, yang lain pasif; yang satu kuat, yang lain lemah. Pada masanya, budaya membentuk hubungan seperti ini – misalnya, hubungan antara guru dan murid, atau antara atasan dan bawahan.
Walaupun hubungan komplementer umumnya produktif di mana perilaku salah satu mitra “melengkapi atau menguatkan perilaku yang lain” (Lederer dan Jackson, 1968), masih ada masalah. Salah satu masalah dalam hubungan komplementer, yang dikenal baik oleh banyak mahasiswa, adalah yang disebabkan oleh kelakuan yang berlebihan. Sementara hubungan komplementer antara seorang ibu yang melindungi dan membimbing dengan anaknya yang sangat bergantung kepadanya pada suatu saat sangat penting dan diperlukan untuk kehidupan si anak, hubungan yang sama ketika anak ini beranjak dewasa menjadi penghambat bagi pengembangan anak itu selanjutnya. Perubahan yang begitu penting untuk pertumbuhan tidak dimungkinkan terjadi.

6. Komunikasi Tak Terhindarkan
Mungkin banyak yang menganggap bahwa komunikasi berlangsung secara sengaja, bertujuan, dan termotivasi secara sadar. Dalam banyak hal ini memang demikian. Tetapi, sering kali pula komunikasi terjadi meskipun seseorang tidak merasa berkomunikasi atau tidak ingin berkomunikasi. Ambil contoh, seorang pelajar yang duduk di barisan belakang dengan wajah tanpa ekspresi. Kadang-kadang menatap kosong ke arah jendela. Walaupun pelajar ini mungkin menganggap dirinya tidak sedang berkomunikasi dengan gurunya, guru yang bersangkutan akan menafsirkan berbagai pesan dari perilaku pelajar ini. Mungkin guru tersebut menganggap si murid tidak berminat terhadap pelajaran yang diberikannya, mungkin bosan, atau mungkin sedang memikirkan sesuatu. Apa pun, guru ternyata menerima pesan meskipun pelajar tadi tidak bermaksud berkomunikasi. Dalam situasi interaksi, anda tidak bisa tidak berkomunikasi (Watzlawick dkk., 1967). Tidaklah berarti bahwa semua perilaku merupakan komunikasi; misalnya, jika sang murid melihat ke luar jendela dan guru tidak melihatnya, komunikasi tidak terjadi.
Selanjutnya, bila manusia dalam situasi interaksi, ia tidak bisa tidak menanggapi pesan dari orang lain. Misalnya, jika sedang melihat seseorang melirik ke arah kita, kita pasti bereaksi dengan cara tertentu. Seandainyapun kita tidak bereaksi secara aktif atau secara terbuka, ketiadaan reaksi ini sendiri pun merupakan reaksi, dan itu berkomunikasi. Kita tidak bisa tidak bereaksi. Sekali lagi, jika kita tidak menyadari lirikan itu, jelas bahwa komunikasi tidak terjadi.

7. Komunikasi Bersifat Tak Reversibel
Manusia dapat membalikkan arah proses beberapa sistem tertentu. Sebagai contoh, Manusia dapat mengubah air menjadi es dan kemudian mengembalikan es menjadi air, dan ia dapat mengulang-ulang proses dua arah ini berkali-kali sesukanya. Proses seperti ini dinamakan proses reversibel. Tetapi ada sistem lain yang bersifat tak reversibel (irreversible). Prosesnya hanya bisa berjalan dalam satu arah, tidak bisa dibalik. misalnya, manusia dapat mengubah buah anggur menjadi minuman anggur (sari anggur), tetapi ia tidak bisa mengembalikan sari anggur menjadi buah anggur. Komunikasi termasuk proses seperti ini proses tak reversibel. Sekali manusia mengkomunikasikan sesuatu, maka ia tidak bisa tidak mengkomunikasikannya. Tentu saja, manusia dapat berusaha mengurangi dampak dari pesan yang sudah disampaikan; dapat saja, misalnya, mengatakan. “Saya sangat marah waktu itu; saya tidak benar-benar bermaksud mengatakan seperti itu.” Tetapi apapun yang anda lakukan untuk mengurangi atau meniadakan dampak dari pesan anda, pesan itu sendiri, sekali telah dikirimkan dan diterima, tidak bisa dibalikkan. (Ada pepatah Indonesia yang mengatakan, nasi telah menjadi bubur).
Prinsip ini mempunyai beberapa implikasi penting komunikasi dalam segala macam bentuknya. Sebagai contoh, dalam interaksi antarpribadi, khususnya dalam situasi konflik, kita perlu hati-hati untuk tidak mengucapkan sesuatu yang mungkin nantinya ingin kita tarik kembali. Pesan yang mengandung komitmen – pesan “aku cinta padamu” dengan segala macam variasinya – juga perlu diperhatikan. Jika tidak, kita mungkin terpaksa mengikatkan diri kita pada suatu posisi yang mungkin nantinya kita sesali. Dalam situasi komunikasi publik atau komunikasi masa, di mana pesan-pesan didengar oleh ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang, sangatlah penting kita menyadari bahwa komunikasi bersifat tak reversibel.

Arti Penting Komunikasi Interpersonal
1. Membantu perkembangan intelektual & sosial manusia ; perkembangan manusia sejak masih bayi sampai masa dewasamengikuti pola semakin meluasnya ketergantungan pada orang lain. Diawali dengan ketergantungan atau komunikasi intensif dengan ibu pada masa bayi, dengan saudara dan teman pada masa kanak-kanak, pada guru, pada masyarakat sekitar dan seterusnya. Perkembangan intelektual dan sosial manusia ditentukan oleh kualitas komunikasi kita dengan orang lain.
2. Pembentukan identitas & jati diri ; identitas dan jati diri manusia diperoleh melalui komunikasi dengan orang lain. Selama berkomunikasi dengan orang lain secara sadar atau tidak maka manusia mengamati, memperhatikan, dan mencatat dalam hati semua tanggapan yang diberikan orang lain.
3. Memahami realitas & menguji kebenaran ; manusia dalam menemukan kebenaran dan kenyataan akan melakukan perbandingan sosial (social comparison). Hal ini hanya bisa dilakukan hanya melalui komunikasi
4. Menjaga kesehatan mental; kesehatan mental manusia juga ditentukan dari kualitas komunikasi yang dilakukan , bila manusia memiliki masalah dalam interkasi dan hubungan dengan manusia lain maka ia akan merasa tidak nyaman serta cemas dalam hidupnya. Bila ia menarik diri maka ia akan kesepian dan terlempar di dunia asing. Oleh karenanya peran mkomunikasi di sini sangatlah penting.

Sumber www.edwias.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar